Galery

Minggu, 31 Desember 2017

End of 2017

Benar bahwasanya kita hidup bukan dari perkataan orang lain. Tapi bisakah kamu melihat punggungmu sendiri?  Bisakah kamu berdandan dengan sempurna tanpa berkaca? Tidak kan?  Nah kita juga butuh orang lain untuk mengintropeksi diri kita sendiri.  Maksudnya?  Kita harus menerima begitu saja penilaian orang?  Tidak juga.. Tapi perkataan orang,  teguran,  saran bahkan kritikan dapat menjadi masukan yang membangun diri kita.. Tidak ada yang ber hak menilai orang lain jika dirinya sendiri belum sempurna,  tapi jangan juga antipati dengan pendapat orang.. Jangan juga terlalu baper dengan penilaian orang.
Jadi harus bagaimana dong kok serba salah ya?  Tiap kita punya batas toleransi dan prioritas dalam hidup..
Analoginya sederhana.. Setiap kita kalau makan pasti punya porsinya sendiri”.. pasti kita tau takarannya bagi diri kita yg cukup tidak terlalu kenyang ..atau saat memilih pakaian, kita tau pakaian yang mana yg pas sehingga membuat kita nyaman bergerak bukan pakaian yang disukai orang lain atau trend mode supaya kita terlihat wahh amazing...apa jadinya kl seperti itu tapi kita tidak merasa nyaman dengan tubuh kita terlebih isi dompet dan yang terpenting kita tidak lagi menjadi diri kita apa adanya…
demikian halnya menerima pendapat orang ambil yg positif dan pas di diri kita dan jangan baper dg sisanya

Jik hanya satu orang yang menilai buruk diri kita berarti ada masalah dengan orang itu sendiri,  tapi jika sudah banyak orang merasa kurang nyaman dengan apa yang kita ucapkan,  lakukan,  berarti ada yang keliru pada diri kita.

Jangan pernah melupakan norma” dalam masyarakat.. Rambu” lalu lintas dibuat agar kita semua mengikuti aturan supaya semua adil dan seimbang. Demikian dengan adat ketimuran yang masih menjunjung tinggi nilai” etika , sopan santun, dan terlebih moral.

Jadi sudahkah anda menyiapkan diri utk resolusi th 2018? Yuuuk mari kita berkontemplasi bersama. 



sukacita natal, semangat kumpul sedulur

Natal adalah saat yang paling kami tunggu tunggu setiap tahun. Entah bagi keluarga yang lain, tapi keluarga kami sangat sukacita menyambutnya.. karena kami bisa berkumpul bersama keluarga besar, bertemu saudara yang tinggal diluar kota kangen kangenan merayakan natal bersama trah PDM (trah nenek saya dari keluarga mama. PDM  = Padmo adalah nama nenek saya yang kini berusia 96 tahun)
yaaaaa setidaknya itu yang saya rasakan...sukacita dan semangat yang entah dirasakan juga atau tidak dengan keluarga saya yang lain. Karena dengan semua kejadian yang ada, ada yang merasa bahwa semangat natal mulai memudar dari keluarga besar kami.

Seiring berjalannya waktu, entah faktor ekonomi atau bersebrangan pemikiran, kadang hubungan persaudaraan dapat merenggang. Jalan mana sih yang selalu mulus? tempat mana sih di bumi yang selalu damai sejahtera tanpa adanya konflik? mari kita belajar dari anak kecil jika mereka bertengkar (baca berdebat) tapi semenit kemudian mereka akan bermain lagi bersama. Kenapa kita tidak bisa setulus mereka tanpa memendam dendam dalam hati kita?

well dibawah ini adalah potret  generasi dari mak wo (sebutan kami padanya)
dari anak pertama (budhe par yang punya lotek gado-gado colombo yang terkenal itu hehe), cucu pertama (mbak wiwik), cicit/buyut pertama(kongko), dan canggah pertama (listi).


Diantara sekian banyak turun temurun trah kami, nenek saya inilah yang paling memiliki krentek (bahasa indonesianya semangat  yang berasal dari hati) ngumpulke anak,cucu,cicit bahkan cangah..beliau sudah memimpikannya bahkan berbulan bulan sebelum natal tiba..hehe..Beliau adalah tiang doa trah kami..karena beliaulah kami semua berkumpul merayakan natal bersama.


Saya dan suami selalu mengajarkan MiMo kami untuk hidup rukun satu sama lain, kami ingin tetap menjaga semangat dan damai natal yang mereka rasakan setiap tahunnya. Itu juga yang ternyata menjadi krentek saudara-saudara saya yang lain yang punya anak seusia MiMo..dan kemarin kami membuat acara kumpul bareng "The krucilnya PDM Crew" di joglo puluh watu...asyiiik banget...kami ingin tetap anak-anak ini menjaga tali silaturahmi antara sesama saudaranya..kapan lagi jika bukan dimulai dari sekarang, harus ada yang memulai dan berinisiatif ndak mereka "kabacut/terlanjur" saling cuek atau bahkan tak bertegur sapa..betapa sangat memprihatinkan jika itu sampai terjadi.

ini adalah potret kebahagiaan tulus dari mereka sebagian "the krucil PDM Crew




 Sampai jumpa di acara selanjutnya :)
ingatlah nak, apapun yang terjadi sedulur iku saklawasse...

Senin, 18 Desember 2017

Apa nelangsa tanpa ART??


Masak apa pagi ini?
Teknisnya hari ini hari libur,  senangnya kalau masih kruntelan dikasur dipagi yang dingin bbrrrr...tapi tidak berlaku buat saya.  Yak saya tetap harus bagun subuh kadang jam 4 apa 4.30 untuk menyiapkan sarapan buat keluarga. Setiap pagi seperti itu..yaaa ada kalanya sih kadang kalau kecapekan dan terpaksanya beli (pernah saya ketiduran di dapur dan dibangunkan suami hehe). Yaa dibuat santai saja.. Tapi yang pasti saya lebih suka keluarga saya makan di rumah. Terlebih hari libur seperti ini justru suami saya berangkat pagi pagi sekali jam 6 untuk membuka toko, jadi kasian kalau tidak sarapan.

Lantas apa makanan yang saya masak seenak itu kok semua harus makan dirumah? hmmm tidak juga hehe..saya terus belajar dan masih belajar. Sering juga anak anak bilang masakan saya tidak enak haha..awalnya sakiiiiiit hati ini (lebai nih) tapi lama lama saya belajar bahwa jika saya berbuat sesuatu saya harus siap dengan segala konsekwensinya..contohnya dikritik soal masakan saya. 
Sayapun jadi hafal apa yang disukai anak, apa yang tidak, sampai masak nasi gorengpun harus sesuai selera mereka (kecapnya harus dikiiiiiit banget, masaknya harus pakai mentega) kalau tidak dianggap tidak enak hahaha........ ampunn dahh pokoknya susah jadi koki :p 
Tapi saya malah seneng apa yang saya sajikan tidak tersentuh bumbu penyedap. Karena anak saya yang tertua mengidap astma, pengalaman mondok 2 x akibat serangan atsma (apa hubungannya dengan makanan? suatu saat akan saya ulas hehe) jadi saya harus berhati-hati soal apa yang dimakan anak-anak saya.
Bagaimana dengan suami? hmmm beruntungnya saya punya suami yang selalu nrimo istilah jawanya..dia tidak perlu disajeni teh atau kopi seperti kebanyakan para suami, cukup dengan air putih saja sudah beres..dia juga selalu memakan apapun yang saya masak..kalau tidak enak atau tidak sesuai selera paling makannya dikit haha tapi kalau cocok wahh lahap banget. Dia jarang memuji masakan saya enak, tapi saya tau dia suka saat saya masak dan kami makan bersama setiap hari..

Terhitung sejak bulan april kami tidak punya ART(Asisten Rumah Tangga). Awalnya dulu pas tau mbak ami (ART)  kami pamit mau menikah lagi dan ikut suaminya ke kalimantan.. Hmmm rasanya galauuuuu banget.. Pada saat itu saya membayangkan apa jadinya rumah tanpa ART? apalagi saya bekerja dan sering tugas luar mengantar murid".. belum lagi kedua anak saya bagaimana??
Segala hal berkecamuk di batin saya saat itu,  karena sejak menikah dan punya anak saya begitu tergantung dengan pembantu.. Bukan soal pekerjaan rumah tapi soal anak".

Kalau soal pekerjaan rumah tangga,  Puji Tuhan saya bersyukur dari kecil dididik dg baik oleh orangtua saya tentang pekerjaan rumah jadi tidak kaget lagi, menyapu, ngepel, mencuci piring, apalagi masak sudah biasa saya lakukan sejak kelas 4SD. Bahkan saat ada ART sekalipun saya juga ikut bangun pagi dan masak bahkan masak buat jualan.. (hehe bisa dikroscek dengan para mantan ART saya)
Haha sepintas terlihat sombong yak.. 😅 tapi dimata suami saya, saya masih tergolong malas hahaha mesakke yoo aku ikih 😂

Ternyata semuaaaa kekawatiran saya akan tidak adanya ART di rumah tangga kami, tidak terjadi.. Semua berjalan dengan baik.. Itu semua karena saya punya suami yang ringan tangan dalam membantu pekerjaan rumah saya.. dia sungguh membantu pekerjaan rumah saya bahkan juga menjaga anak" sambil menjaga toko. Setelah saya selesai dengan pekerjaan saya,  anak" saya jemput. Jika tidak yaa sesekali dia rela meninggalkan toko kami dan dirumah menjaga anak-anak. Trus toko siapa yang jaga? kami bersyukur punya kakak ipar mami de yang mau direpoti menjaga toko ataupun pegawainya mertuaku (fyi, suamiku sekarang sudah tidak punya pegawai) Juga saya sangat bersyukur diberikan kedua orangtua yang siap sedia buat menjaga anak" saya. Tapi kalau kepepet aja kadang saya titipkan..kasihan masak mereka sudah menjaga saya waktu kecil sekarang dimasa tua sudah harusnya merdeka tapi malah masih harus momong cucu.. Hehe..
dan luar biasanya lagi..suami saya sekarang sedang asyik merenovasi rumah kami supaya lebih layak ditinggali. Dia benar benar suami yang bertanggung jawab..memberikan semua kenyamanan buat kami.
Anak anak saya pun tergolong adalah anak-anak yang bisa diatur,  dan mereka mau  belajar mandiri. Mereka enjoy dengan ketidak adaan ART.. Dan terutama si kecil michele yang sempat mengalami masa" sulit karena harus penyesuaian berpisah dari mbak yang dari bayi menjaganya.. Kini sudah tidak rewel lagi.. Sudah semakin mandiri.. Puji Tuhan..

jadiii yang mau saya sampaikan bahwa setiap keluarga punya ceritanya sendiri-sendiri bagaimana bisa survive, setiap keluarga punya beban kehidupan rumah tangga dan dibantu oleh Tuhan sedemikian rupa diberi kemudahan kemudahan dan tangan tangan ajaibNYA...jadi buat apa susah??? 

kadang saat saya dan suami leyeh-leyeh, anak-anak sudah tidur, saya mengatakan "ternyata enak yaa tanpa pembantu..justru lebih terasa ayem dan kita kompak". suami saya pun menjawab dengan senyum kecilnya,"baru tau yaa....aku kan udh bilang tenaaaaang too"
Terima kasih  ya Tuhan.. 😇 lindungi selalu keluargaku..

Jadiiii... Hidup tanpa ART?  Siapaaa takkuttt 😀 nelangsa?  No way 😅

Minggu, 17 Desember 2017

Hadiah yang paling berharga



Diantara sekian banyak ucapan.. Ucapan ini paling menyentuh hati saya. .
Saya tidak tau seberapa besar saya berdampak pada kehidupan orang lain,  yang saya tau saya berusaha memberikan yang terbaik dari diri saya buat orang lain.

Saya bukanlah orang sempurna,  banyak dosa saya disana sini mungkin pun tanpa sengaja saya buat. Jadi apa hak saya menghakimi orang lain?
Kita tdk ada bedanya,  hanya saja mungkin keburukan kita masih ditutupi Tuhan dengan baik. Jadi tidak ada alasan membenci orang.

Saya pun menyadari pasti juga ada orang yang tidak menyukai saya bahkan tanpa alasan. Yup orang tidak membutuhkan alasan untuk tidak menyukai orang lain. Tidak suka ya tidak suka aja.. Itu sudah sifat dasar manusia.

Terima kasih jika kehadiran saya telah berdampak bagi kebaikan hidupmu.. Saya mengasihimu.. Karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi saya.. Love you dek.. 😘 tetap berjuang dan bertanggung jawab dengan semua permasalahan hidupmu.. Dimana ada niat baik,  disitu selalu ada jalan 😇

Saya merasa saya dicintai.. Itu adalah hadiah yg paling berharga..
Terima kasih 🙏🙏🙏

Rabu, 13 Desember 2017

Happy bestday to me

Sujud syukur atas penyertaanMU disepanjang tahun ini 😇
.
.
Segala kesusahan, duka lara adl nikmat berkat kebahagiaan yg tertunda. Sungguh Tuhan, hari hari yg luar biasa bersamaMU, suami dan anak"ku. Haleluya!!! .
.
❤💚💛💜💙
.
#happybirthdaytome

Kamis, 07 Desember 2017

Plagiat, karakter atau kepepet?



Jujur ajur!  Itu yang sering saya dengar dari orang-orang yg melakukan plagiat.
Mencontek.. Pernahkah anda mencontek saat ujian?
Kalau saya,  jujur pernah.
Eitss jangan menghakimi dulu ya..

Saya ceritakan dulu bagaimana perasaan detik detik saat mau mencontek. Gugup,  berkeringat,  deg degan kenceng sampai saya bisa mendengar detak saya sendiri (lebay haha)  pokoknya bagi kamu yang pernah melakukan ketidak jujuran itu pasti rasanya sama. Kita tidak akan tenang bahkan sampai setelah selesai melakukannya. Berhari-hari dihantui perasaan itu. Karena kita tau apa yang kita lakukan itu salah
Cuma sekali itu dan saya benar" kapok.

Kenapa saya "terpaksa" mencontek?
Saya kuliah di fakultas matematika, walaupun jurusan saya komputer tapi kami masih mendapat pelajaran Matdas yaitu matematika dasar. Saya tidak tau kenapa matematika merupakan momok yang menakutkan bagi saya, padahal Ibu saya adalah Guru matematika. Saya sebenarnya geli menceritakan ini...saya mengulang matdas 2-integral integrallll sampek mau muntah rasanyaa..Puji Tuhaannn pengulangan yang ke 3 saya lolos. sampai ganti dosen 3 x hahahaha..nah padahal saya sudah membuat contekan rumus rumus sampai gemetaran membukanya ..tapi kok ya tidak bisa juga tetap nilai saya D (tepok jidat)..sampai akhirnya pengulangan yang ke 3 kalinya saya diajarkan oleh pacar yang saat ini jadi suami saya :) kebetulan dia jurusan matematika. Dan ternyata saya bisaaaaa dan dapat nilai B...brarti kan mungkin cara belajar saya yang keliru.

(pada saat itu)  banyak disekeliling saya yg melakukannya tanpa ketahuan bahkan IPK mereka jauh diatas saya..huft sedih dan dan jengkel memang. Ada banyak metode mencotek teman" saya,  ada yg menjadi server,  ada yang menjadi benalu maksudnya ada teman saya yang pintar dan dia bagai bunga yang dikelilingi kumbang. si bunga ini selalu "membantu" para kumbang.... Yups sebel kan.  Kita yang belajar sampai mata panda istilahnya malah terkalahkan nilainya dari orang orang benalu macam begitu.

Nahhh.. Kejadian yang saya alami ini persiss sama dengan yang dialami murid saya.
Kemarin saya mendapati murid saya mencontek dalam ujian penilaian akhir semester.  Setelah saya ajak ngobrol,  dia mengatakan jika bukan hanya dia yang melakukannya tapi teman hampir satu kelasnya yahhh dengan metode yang mirip mirip seperti yang pernah saya alami. Dan murid saya berkata jika baru kali ini dia melakukannaya dan dia terpaksa melakukannya karena pada saat penilaian tengah semester kemarin rengking rata" dikelasnya dia mendapat urutan hampir yg terakhir dan dia tidak terima karena teman"nya yg jelas jelas mencontek rengkingnya lebih bagus. Dia juga sebel sama pengawas ruang yang menurutnya kurang ketat dalam mengawasi.

Menurut pengalaman saya diatas,  orang kepepet berbuat tidak jujur (dalam konteks ini mencontek) itu karena jelass belum menguasai materi kalau orang bijak sekarang menyebutnya dengan "tidak pede".. 
Atau ya itu tadi maunya jujur tapi karena melihat lingkungan jadi ikut ikutan...dengan pembenaran "ah teman saya juga sama"

Kalau itu dibiarkan bisa menjadi karakter buruk bagi seseorang..karena jika sekali kita berbohong akan ada kebohongan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang pertama. Jika sekali kita mencontek dan tidak ketahuan,  kita akan dengan mudahnya menggampangkan segalanya.."ahh gampang nyontek aja gak ketahuan kok". Bayangkan kalau itu terus terjadi... karakter baik kita jadi mati, kepekaan kita pada banyak hal jadi tidak teruji. Disamping itu kita jadi bodoh karena tidak belajar. Kita jadi orang egois yang tidak mau belajar.

Pada kasus yang saya alami, saya langsung menyadari perbuatan saya salah. Segala bentuk ketidak jujuran akan menyiksa diri sendiri. Itu sudah terbukti.

apa yang saya sampaikan kepada murid saya? saya tanya bagaimana perasaannya saat dia melakukannya? murid saya menjawab bahwa dia merasa bersalah memberikan nilai bagus pada orang tuanya tapi dari hasil yang curang.
nahh dia sudah menyadarinya.
jika ada pembiaran pembiaran yang curang disekeliling kita lama lama akan membentuk diri yang cuek terhadap lingkungan, sampai hak kita diambil baru kita sadar..itu semua terjadi karena pembiaran-pembiaran yang kita anggap remeh. Contohnya korupsi. Kalau mental kita sudah bagus, ditempa bagaimanapun kita tetap punya prinsip.
itulah mengapa kami para pendidik begitu getol dan sebel jika melihat murid-murid mencontek..itu semua demi kebaikan diri mereka..demi membentuk karakter juang mereka. karakter kejujuran mereka.
Nahh dalam skala yang lebih besar, kenapa bisa terjadi korupsi?  Karena adanya pembiaran pembiaran yang serupa pada diri kita sendiri. Ahh gak papa kan yang lain juga korupsi.. Ahh cuma dikit kok..

Dibawah ini adalah hasil jepretan saya saat ujian kemarin..saya salut pada anak ini, dia punya niat yang baik untuk memotivasi dirinya..4 jempol buat dia..
begini kurang lebih kata-katanya:
 "apapun yang terjadi JANGAN NYONTEK, JANGAN TANYA, yakin aja sama dirimu. Kalau nilaimu jelek ya karena kamu gak belajar/belum bisa. JUJUR HARGA MATI!!!"


Jadi..mencontek yang karena kepepet, jika diteruskan akan menjadi pembiasaan sehingga karaktermu terbentuk dari itu..jadii masihkan berfikir kalau jujur itu ajur?
kalau masih enggak paham..coba deh kita tidak perlu membicarakan kelakuan koruptor. Gini aja, kalau uangmu diambil dengan cara yang tidak benar apakah kamu tidak merasa jengkel dan dibohongi? nah kurang lebih begitulah perasaan orang tuamu saat tau nilai yang kamu dapatkan itu dari hasil contekan :)

salam semangat belajar !

Senin, 04 Desember 2017

Astma kulit


Jika dilihat wajah itu biasa saja.. Hehe senyumnya juga tidak semanis monalisa haha.. Tapi jika diperhatikan kondisi pada ujung bibir saya sangat memprihatinkan.

Kira" tahun lalu,  ujung bibir sebelah kanan saya tiba" mengalami perih semacam luka sobek,  diiringi kondisi bibir dan seputaran bibir yg mengering. Pertama saya obati alami dengan lidah buaya (krn vit.E nya tinggi) dan madu(bisa melembabkan) . Tapi ternyata makin parah.
Saya bawa ke dokter umum hanya diberikan cairan gom namanya, tapi setelah dioles sama saja tidak kunjung sembuh.  Dan saya kembali pada dokter yang sama,  akhirnya diberikan racikan krim..setelah dioles seminggu sembuh.  Tapi setelah obat habis sama saja bahkan kering dan pecah"nya sampai melebar.

Saya searching katanya bisa jadi karena jamur atau alergi kosmetik atau jenis pasta gigi merk tertentu. Pergilah saya ke dokter spesialis kulit kecantikan atas rekomendasi dokter umum saya ini,  dg alasan karena penyakitnya di wajah takutnya dokter akan berdampak membekas.
Setelah ke dokter spesialis kulit kecantikan yg praktek di area bumijo  katanya alergi kosmetik lipstik barangkali (tp itu jenis lipstik bermerk yg biasa saya gunakan) saya turuti perkataan dokter dengan mengoleskan krim khusus dan obat dari dalam.
Sebulan pengobatan hasilnya nampak.. Saya juga mengganti pasta gigi saya yang tidak mengandung deterjen.
Tapi apalah daya begitu obat habis kumat lagi juga sakitnya. Kembali lagi ke dokter ( hikss sampai habis banyaakkkk)

Dan saya akhirnya sampai pd kebosanan saya karena sakitnya sembuh kumat sembuh kumat. Akhirnya saya diamkan saja.
Kemudian saya hentikan pengobatan dokter saya fikir apakah ini mungkin dari dalam ya?  Karena kolesterol dan asam urat saya tinggi. Mulailah saya setiap hari mencatat (niteni kata org jawa)  apa saja yg masuk ke dalam mulut saya.. Dari makanan sehat sampai junk food. Sampai minum ramuan herbal. Dari hasil observasi saya ternyata tidak ngaruh juga.. Tetap saja penyakit ini menclok sembuh menclok sembuh.. Begitu terus.

Sampai kira" 3 minggu lalu,  saat saya bangun pagi dibawah dagu saya kelenjar membengkak.. Sakit sekali rasanya.. Dan itu gede banget.. Dan peradangan makin parah.
Saya kemudian berfikir apa tidak sebaiknya saya bawa saja ke dokter spesialis kulit aja. Tapi ada rasa malu (dari dulu sebenarnya)  kan kl di RS dokter spesialis kulit plus kelamin hahaha ada rasa malu dan risih jangan" nanti.....hahaha.. Dasar pikiran saya yg kotor
Dann dg keberanian 45 saya datang ke panti rapih. Ternyataaaaa... Setelah di periksa saya menderita "astma kulit" saya sampai bengong ada toooo penyakit ituu??  Saya kok bodooo baru tau....  Saya pikir anak saya memang astma tapi kan pernafasan paru"..

Demikian penjelasan dokter..
Pertama beliau nanya apakah di keluarga ada yg menderita astma? Adek dan anak saya memang astma. Nahh astma sebenarnya disebabkan pada faktor keturunan atau alergi. Alergi bisa datang kapan saja tidak peduli biasanya kita pakai produk tertertu menahun atau makan makanan tertentu menahun dan tidak ada efek apa"..bukann..dia bisa muncul kapan saja tergantung kondisi badan. Kalau alergi nyerangnya di paru ya jadinya astma dan penyakit pernafasan lainnya.. Kalau di kulit seperti saya ini jadinya astma kulit. Bisa jadi dari debu,  atau kosmetik. Orang yg baru dewasanya terkena astma juga bisa lo.. jadi karena pikiran stress sehingga memicu muncul astma.  Nahh kalau dalam kasus saya bisa jadi debu atau kosmetik (bedak).
Begittuuuuu.. Dan Puji Tuhann saya sekarang sudah sembuh..walau dinyatakan penyakit ini sifatnya kumat kumatan sihh tapi setidaknya sudah tidak ada radang lagi.

Nahh ternyata penyakit itu kalau ditangani dg tepat ya cepat sembuhnya..saya juga jd teringat dg penyakit syaraf kejepit saya dulu.. Pengobatan selama hampir 2 tahun yg membuat saya hampir menyerah karena kepayahan dan almarhum shinse yg mengobati saya berkata, "sabar..semua ada waktunya.. Ada juga waktunya sembuh"

Puji Tuhann..

Semangat yaa bagi teman" yg sedang menaggung sakit.. Kita selalu diingatkan untuk lebih dekat padaNYA..

Bersukacita dalam 10th pernikahan




Saya pernah membaca bahwa pernikahan itu digambarkan seperti sebuah rumah. Kadang kita mendandani rumah atau merenovasi memperbaiki yang bocor. Demikian halnya sebuah perkawinan terkadang ada saat saat terjadi konflik dan berkomitmen lagi/berkomunikasi lagi untuk memperbaikinya.

Pernikahan saya juga bukanlah tanpa cacat atau sempurna. Sama seperti keluarga yang lain, kehidupan pernikahan kami juga memiliki konflik.

Pernikahan juga bukan seperti yang saya bayangkan namun ini adalah pilihan saya.

Kalau ditanya apa yaa masalah terparah?

Apa yaaa.. Coba saya mengingat ingatnya kembali..
Hmmm pernah kami kesulitan ekonomi saat anak kedua kami lahir.. Biasalahh orang berbisnis itu pasti ada untung ruginya.. Pasti ada saat naik dan turunnya. Dan kami pun mengalaminya dg goncangnya bisnis suami saya. Tapi sekali lagi Puji Tuhann kami bisa melewati badai itu.. Tuhan selalu membukakan jalan bagi kami. Walau memang efek dari semua itu masih terasa sampai sekarang tapi kami sama sama berfikir selama kami bisa bersama, selama kami berdua sama sama bekerja dg giat dan rajin..apa sih yang tidak terselesaikan?

Hmm pernah juga pernikahan kami diterjang badai "orang ketiga" ((maaf saya harus jujur.  Dan maaf ini bukannya membunuh karakter suami saya))  tapi ternyata itu semua hanya fitnah yang tidak dapat dibuktikan dari orang yang tidak suka dengan harmonisnya hubungan kami. Saya akui saya begitu emosi saat itu,  tapi suami saya berusaha keras membuktikan bahwa dia tidak bersalah.
Dan sampai kini saya masih bertanya tanya siapa yang tega hendak mencerai berai keluarga kami?  Dan jeleknya mulut saya saat itu,  saya berkata buruk bahwa siapapun orangnya yang telah berbuat jahat akan berlipat lipat hidupnya menderita dari penderitaan yang pernah kami rasakan, sebelum org itu meminta maaf kepada kami (terutama saya) .... Dan menyesalnya saya dengan perkataan buruk saya saat itu.. Kenapa hati yang dilingkupi emosi berkata seperti itu. Setiap hari saya meminta ampunan Tuhan atas apa yang pernah saya ucapkan. Dan meminta ampunan bagi orang itu... Karena siapa tau orang itu punya keluarga,..bagaimana jika perkataan buruk saya jatuh pada keluarganya yang tidak bersalah??  Duhh jahatnya saya.. Ampuni saya Tuhan

Selebihnya hanya konflik konflik kecil yg (sejauh ini) bisa teratasi dg baik..

Kadang saya berfikir kenapa yaa banyak rumah tangga tidak dapat bertahan dengan lama?  Apa sebabnya?  Kalau KDRT jelasss saya menolak itu,  lebih baik katakan dengan tegas untuk berpisah. Karena sudah jelaa tidak ada kasih sayang buat apa menyiksa diri dan masa depan. Juga tidak hanya kita yang tersiksa sebagai objeknya tapi juga kalau ada anak" pendidikan apa yang baik dari sebuah rumah tangga yang penuh dengan drama  KDRT yang bisa menjadi contoh baik pada anak.. Itu semua hanya akan menimbulkan trauma berkepanjangan dan anak akan menirunya atau anak akan stress. Lebih baik tegas berpisah harga mati!

Tapi saya juga tidak menghamiki orang yang pada akhirnya memilih jalan perpisahan.. Itu hak mereka..karena masing" orang punya batas toleransi dengan diri sendiri.. Masing" orang punya prioritas dalam hidup..tapi bohong juga jika berkata anak tidak akan jadi korban jika berpisah baik"...hmm maaf tidak ada kata perpisahan "baikbaik" semua pasti akan meninggalkan luka. Terlebih pada anak.  Saya banyak menemui kasus ini pada murid" saya.. Bahkan yg terekstrim anak tidak lagi peduli pada keluarga,  jawabnya "terserah mereka(papa mama) mau ngapaian bu yg penting uang jajan saya lancar" duhh betapa memprihatinkannya..

Maka dari itu saya bertekat..lebih tepatnya saya dan suami saling menyadari bahwa kami harus memberikan kehidupan yang layak bagi anak" kami baik kebutuhan fisik terlebih psikologi mereka... Kuncinya hanya komunikasi yang baik didasari rasa sayang.
Dan saya tidak akan bertanya lagi pada diri sendiri,  lantas bagaimana dengan batas toleransi diri saya???

Mari sama sama mengusahakan kebahagiaan untuk keluarga..


Selasa, 14 November 2017

Sosial media in sosial life

Tidak ada yang benar benar aman di sosial media.
hmm apakah saya yang terlalu parno(paranoid) ya?.
Akhir-akhir ini saya banyak mendapati bacaan tentang keresahan orang-orang terhadap banjirnya informasi dari sosial media yang tidak terbendung. Entah itu berita positif sampai berita hoax. Belum lagi sosial media kini dipakai sebagai "tempat curhat"nya dari anak SD sampai ibu-ibu muda seperti saya hehehe.
Dan seperti sebuah "wabah" ataupun "banjir" yang tidak terbendung, kini mudah sekali orang-orang (termasuk saya..dulunyaa sebelum insap yak) berlaku seperti itu..contohnya updet yang remeh remeh.. Hmm "lagi bete.. " mau ini mau itu updet.. Lagi ini lagi itu tiap satu jam updet... Haha (kok saya begini.. Yaa suka suka orang lah yaaa 😅)

Updet di sosial media seperti trend gaya hidup baru yang diusung oleh generasi zaman now (hallahhh...wkwk) tapii masih ada juga teman yg suka koment kalau saya juga termasuk sering updet (walau perasaan saya jarang)  hahaha.. Susah yaa mendengar penilaian orang lain 😅
Sebenarnya disebut "pamer" di sosial media atau tergolong biasa saja,  saya pikir karena pikiran seseorang aja sih.. Yaaa tergantung cara pandang masing masing orang... Kalau kita sudah punya bibit ketidak sukaan pada seseorang pasti kita akan ambil negatifnya.. "senenganne kok pamer 😏" 
Sampai sampai ada meme yang berkata bahwa "skeptis melulu mungkin hidupnya kurang bahagia 😅 " 
tapi kalau kita biasa biasa saja kita akan menanggapi dg santai. Jadiii jagaa yaa jaga pikiran dan hati (ini berlaku juga buat saya) 
Lantas bagaimana dg saya?  Saya pikir kalau apa yang disampaikan apa adanya sih wajar saja karena kadang orang butuh "pengakuan" dari orang lain. Lain halnyaa kalau saya tau kehidupan aslinya seperti apa..tapi kemudian di beda lagi di sosial media...alamakkkkk 🙈🙈🙈 ada juga yang ngegemesin seperti itu hahha.. Tapi kembali lagi itu hak setiap orang...saya tidak punya hak menghakimi orang lain sedang saya sendiri masih butuh perbaikan disana sini 😊 ya kann... 

Sebagai seorang pendidik, kadang ironis rasanya, tidak jarang saya mendapati siswa yang asyik sendiri dengan handphonenya tanpa mengindahkan gurunya yang berbuih buih menerangkan, sudah tidak ada lagi etika dan sopan santun terhadap guru contoh saat berpapasan dengan Guru malah sibuk mantengi hp nya atau pura pura tidak melihat.

Namun tidak jarang juga kejadian seperti ini, saat menghadiri sebuah perkumpulan(yang orang-orangnya tidak akrab) saya sering terjebak dalam situasi "krik krik" yang dimana tidak begitu mengenal teman disekeliling kemudian pelampiasannya utik utik hp sendiri..sebenarnya kenapaa?? ya karena jengah kurang bahan bicara hahaha.. dan nyatanya hal itu juga yang dialami oleh orang-orang.

Lantas bagaimana solusi saya terhadap diri saya sendiri?
Kuncinya cuma satu yaitu memiliki KESADARAN, mengasah atau emunculkan kesadaran pada diri sendiri.
SADAR kapan saat berbagi cerita dan hal  mana yang harus di keep atau dishare dalam sosial media.
Sudah lama saya mengurangi postingan daily activity di sosial media. dan alhamdulilah sudah semakin sering tidak posting. kenapa? saya sadar hal pribadi adalah privasi yang tidak semestinya di share, hal itu tidak perlu dilakukan karena nyatanya orang tidak butuh itu. Tidak semua orang suka dengan kita terlebih apa yang kita lakukan, saya juga bukan artis, saya hanya seorang ibu yang belum sempurna. 
Tapi saya tidak berlaku antipati jugaaa...., kadang saya masih memilih sosial media sebagai tempat berinteraksi atau berekspresi mengungkapkan hal yang saya rasa perlu dishare hanya saja saya batasi yang umum-umum aja..maksud saya bukan curhatan lebay..haha heiiii pleaseeee!! setiap orang punya masalah hidup masing-masing dan kadar susahnya sudah diatur dengan manis oleh Tuhan..gituh loo :D jadiii enjoy aja..

Memiliki kesadaran untuk lebih berusaha bersikap lebih friendly terhadap lingkungan baru.
Sebisa mungkin dengan sekuat tenaga saya berusaha melepas HP saya ketika di wilayah publik..lantas bagaimana caranya mengatasi kebosanan? ya dengan membaca buku atau saya kenalan dengan jejer saya, saat membuka obrolan lantas jadi mengalir begitu saja. Saya jadi teringat saat dulu kita belum (kini justru) terpisah oleh teknologi bernama smartphone, tablet, pablet, ngobrol asyik dengan siapa saja tanpa perlu kawatir dengan istilah "kepo" atau "narsis" atau "pamer"..kini ngobrol dengan orang asing atau baru dikenal seperti sebuah saat yang langka dan ajaib.
Contohnya kemarin, saat bosan menunggu antrian dokter, saat saya memasukan anak saya yang bernama "smartphone" ke dalam tas dan mengobrol dengan ibu/bapak di sebelah saya rasanya seperti dunia baru yang lain terbuka buat saya..saya jadi tau, semakin menyadari dan diberi kekuatan bahwa sakit yang saya derita tidak sebanding dengan sakit yang dirasakan oleh orang lain. bBeban hidup yang saya pikul wuihhhh tidak ada apa-apanya dibanding teman ngobrol saya. Dan saya menyadari kemana aja sayaaa?? jadi selama ini saya  telah diperbudak teknologi kecil ini tapi tidak segera menyadarinya?? alih alih membela diri karena unsur kepentingan

Memiliki Kesadaran kapan saat waktu buat keluarga, bukan "waktunya buat smartphone".
Kadang seharian bekerja, kita mikirnya wuihh enaknya sampai rumah selonjoran istirahat. Tapi yang terjadi saat istirahat tersebut masak bengong..lumrahnya yang terjadi sekarang kemudian megang HP kalau punya anak kecil rebutan remote tv. Sampai kemudian saya pada titik "lupa diri" lupaaaaa bahwa saya ini seorang ibu, juga istri yang keberadaan saya dirumah itu sangat di dambakan oleh suami dan anak. Iya benar bahwa saya sudah mengerjakan pekerjaan rumah, sudah selesai memasak, mereka sudah makan kenyang..tapi mereka juga butuh saya untuk bercanda bersama. Dan parahnya lagi saya tidak segera menyadarinya..saya menganggap "ora dolanan hp" tapi balesi notif atau chat chat yang ada di grup, kebetulan saya adalah wali kelas juga mengurus dapodik.
Well saya selalu membuat alasan untuk diri sendiri..ahh gak papa wong saya sudah menjalankan tugas rumah saya. Sampai kemudian suami mengungkapkan isi hatinya...jiahahaha saya benar-benar bodoh untuk tidak cepat menyadari, kurang peka, padahal suami sudah mencontohkan dia kalau sampai dirumah HP langsung disimpan. Akhirnya muncul kesepakatan dan komunikasi diantara kami. saya merasa kok teknologi jadi mengikat saya sehingga saya tidak punya kehidupan pribadi lagi ya? setiap orang harus punya prioritas dalam hidup ini. Tidak masalah juga chat tidak langsung dibahas atau waktu konsultasi bisa menunggu saat waktu saya buat keluarga dirumah selesai.
Setelah dipraktekkan..bonding diantara kami semakin kuat, kami menikmati waktu kami bersama tanpa terbeban oleh apapun. 

Memiliki kesadaran bahwa sebenarnya banyak hal disekitar yang bisa dilakukan untuk mengisi "bengong time". Sibukkan diri dengan aktifitas yang positif.
Saya memperbanyak aktifitas menyibukkan diri dengan pekerjaan dan waktu yang berkualitas dengan keluarga. Saya pernah menulis sedikit penelitian kecil berdasarkan pengalaman, ternyata orang kalau kebanyakan ganggur atau tidak punya prioritas akan lebih mudah updet status..dikit-dikit updet istilahnya sampai mau (maaf) toilet aja sempet-sempetnya updet dulu hahaha..
Berdasarkan pengalaman, ini terjadi saat saya libur..kalau kita cuma males-malesan itu akan  mudah tergoda dengan updet yang tidak penting.

Saya menulis seperti ini, bukan antipati terhadap sosial media..kadang sosial media masih menjadi tempat saya berexpresi kok hanya saja agak membatasi diri atau lebih tepatnya istilah jawa, "nepakke awakku" artinya saya suka jengah saat baca status yang terlalu curcol masalah pribadi, nahh saya nepakke diri saya kalau saya begitu pasti orang lain juga tidak akan suka. dan saat kita nulis di status orang akan lebih banyak keponya daripada yang benar-benar peduli. penilaian orang bisa saja bermacam-macam terhadap kita, karena media sosial media hanya muat beberapa karakter dan tidak cukup mampu menjelaskan maksud dari kalimat yang kita tulis maka lahirlah bermacam-macam persepsi orang terhadap kita dan persepsi orang tersebut juga dilandaskan dari like and dislike terhadap kita secara personal. Menurut saya loo innii..jangan marah kalau pendapat anda berbeda. Dan setelah saya menjalani keempat cara saya diatas, kehidupan saya jauh lebih nyaman dan tenang.




Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti seminar tentang "sosial media in sosial life" yang diadakan oleh Komisi Pemuda GKJ Gondokusuman bertempat di UKDW.
Cukup menarik karena menghadirkan pakar-pakar dibidangnya.
Yang menarik bahwa sosial media yang bertujuan untuk membantu orang-orang untuk berkomunikasi  sehingga memudahkan kita untuk berkomunikasi malah justru menjadi penghambat dalam hubungan bersosial. mengapa bisa begitu?

Pakar psikolog menjelaskan bahwa muncul kecenderungan kehidupan sosial yang ditonjolkan di media sosial bukan kehidupan nyata atau real namun kehidupan ideal yang diinginkan orang-orang. Masing-masing kita menciptakan figur ideal lah..kurang lebih seperti itu. Dan sosial efeknya terasa banget contoh kecil: persaingan OOTD (istilah dalam istagram Outfit Of The Day), ajang pamer sampai persaingan..semua itu demi mendapatkan pengikut yang banyak atau like yang banyak, dan itu akan memunculkan suatu  kebanggaan diri.
itu bukan kata saya looo itu kata ibu pakar psikologi yang juga dosen UNY Pratiwi Wahyu Widiarti, M.Si

Pakar kebudaan dan sosial yang juga penulis buku, DR. Argo menyampaikan..ada pergeseran budaya dan norma-norma sosial terutama dalam hal budaya 'unggah ungguh' tidak ada lagi batasan dalam menyampaikan pendapat, tidak ada lagi kontrol diri dalam bersikap. Budaya ketimurannya sedikit demi sedikit terkikis.
Dan kata kata beliau ini yang saya suka dan setuju bahwa: "Posisikan sosial media sebagai SARANA dan BUKAN tujuan utama. Bijak dalam penggunaannya"

Hadir juga seorang entrepreneur muda CEO Messenjah. Yohanes Triatmaja, yang justru meggunakan dan memanfaatkan  sosial media sebagai ajang berkarya menghasilkan sesuatu dengan karyanya serta membantu perekonomian orang lain dengan bisnisnya.
Apa yang kitab ucapkan, apa yang kita lakukan, apa yang kita tulis, tanggung jawabnya kepada Tuhan.

Dan ditutup dengan manis oleh Vikaris GKJ Condongcatur Risang Anggoro mengatakan kecanduan smartphone menyebabkan otak tidak reflektif lagi tapi reflek. Contoh saat menerima berita hoax tidak dipikirkan dulu baik buruknya dulu tapi reflek jari-jari langsung mensharekannya. Reaktif + Refleks = Viral Hoax.

  • Contemplate before we post! Yesus senantiasa menyediakan ruang kontemplasi dalam kehidupannya Luk 5:16, Mat 26:39.
  • Sindrome bebek. Orang yang terlihat tenang diatas tetapi di dalam sebenarnya tidak. 
  • Alter Ego untuk Ego. Paradigma atau pandangan idealis vs realita. (seperti yang disampaikan oleh ibu psikolog tadi)
  • Be humble and be your self. Mari berinteraksi dalam sosial media dengan kesadaran hati.
  • social media is a media not even the media
  • Berhati hatilah dengan echo chamber efect
  • break the chamber, be a peacemaker luk 10:25-37 bertindaklah seperti orang samaria yang murah hati dalam kehidupan yang nyata
Yups itulah pemikiran-pemikiran saya...
itulah pengalaman hidup saya...
Mari kita berkontemplasi sebelum posting, mari kita sama sama menyadari posisikan sosial media sebagai sarana dan bukan tujuan utama :) 
bijaklah dalam penggunaanya..